<!– @page { margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } A:link { so-language: zxx } –>
dapet dari enzyme
LIKA-LIKU SEMEN
(asal-muasal, proses pembuatan, dan dampak ekologisnya)
Bangunan apa sih saat ini yang tidak menggunakan semen? Saat ini hampir semua bangunan menggunakan semen sebagai perekatnya. Entah itu gedung kuliah, jembatan, menara, mall, dan rumah yang kita diami saat ini, semuanya pasti menggunakan semen. Semen sangat dibutuhkan di seluruh dunia, terutama bagi perusahan konstruksi dan kontraktor yang sedang dapat proyek membuat bangunan. Bila kita sebagai insinyur kimia dapat membuat pabrik semen tentu akan memiliki prospek yang menjanjikan.
Tapi gimana sih cara bikin semen? Gak tau? Gak perlu khawatir sebab dalam artikel ini akan dibahas mengenai asal-muasal semen, proses pembuatannya, dan juga dampaknya terhadap lingkungan, so simak terus yach!!
ASAL-MUASAL SEMEN
Dalam perkembangan peradaban manusia, khususnya dalam hal bangunan, tentu kerap mendengar cerita tentang kemampuan nenek moyang merekatkan batu-batu raksasa hingga dapat menjadi bangunan yang fenomenal, misalnyai Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Konon menurut legenda mereka hanya menggunakan ketan sebagai perekat. Bahkan, ada pula yang bilang kalo mereka hanya menggunakan putih telur!!!
Benar atau tidak, cerita legenda tadi menunjukkan dikenalnya fungsi semen sejak zaman dahulu. Sebelum seperti sekarang, perekat dan penguat bangunan ini awalnya merupakan hasil percampuran batu kapur dan abu vulkanis. Perekat ini, pertama kali ditemukan di zaman Kerajaan Romawi, tepatnya di Pozzuoli, dekat teluk Napoli, Italia. Bubuk itu lantas dinamai pozzuolana. Sedangkan kata semen sendiri berasal dari caementum (bahasa Latin), yang artinya kira-kira “memotong menjadi bagian-bagian kecil tak beraturan“. Namun, sekitar abad pertengahan (tahun 1100 – 1500 M) resep ramuan pozzuolana sempat menghilang bersamaan dengan runtuhnya Kerajaan Romawi.
Baru pada abad ke-18 John Smeaton (insinyur asal Inggris) menemukan kembali ramuan kuno berkemampuan luar biasa ini. Dia membuat adonan dengan memanfaatkan campuran batu kapur dan tanah liat saat membangun mercusuar Eddystone di lepas pantai Cornwall, Inggris.
Ironisnya, bukan Smeaton yang akhirnya mematenkan proses pembuatan cikal bakal semen ini. Yang pertama kali membuat paten tentang ramuan perekat bangunan adalah Joseph Aspdin pada tahun 1824. Ramuan itu ia namai “Semen Portland”. Dinamai begitu karena warna hasil akhir olahannya mirip tanah liat Pulau Portland, Inggris. Hasil rekayasa Aspdin inilah yang sekarang banyak dijual di toko-toko bangunan.
Sebenarnya, adonan Aspdin tak beda jauh dengan Smeaton. Dia tetap mengandalkan dua bahan utama, batu kapur (kaya akan kalsium karbonat) dan tanah lempung yang banyak mengandung silika (sejenis mineral berbentuk pasir), aluminium oksida (alumina) serta oksida besi. Bahan-bahan itu kemudian dihaluskan dan dipanaskan pada suhu tinggi sampai terbentuk campuran baru. Selama proses pemanasan tersebut, terbentuklah campuran padat yang mengandung zat besi. Nah, agar tak mengeras seperti batu, ramuan diberi bubuk gips dan dihaluskan hingga berbentuk partikel-partikel kecil mirip bedak.
Biasanyanya, untuk mencapai kekuatan tertentu, semen portland dicampur dengan bahan lain. Jika bertemu air (dan dikurangi bahan-bahan lain), misalnya, memunculkan reaksi kimia yang sanggup mengubah ramuan jadi sekeras batu. Jika ditambah pasir, terciptalah perekat tembok nan kokoh. Namun untuk membuat pondasi bangunan, campuran tadi biasanya masih ditambah dengan bongkahan batu atau kerikil, yang disebut disebut concrete atau beton. Dewasa ini, nyaris tak ada gedung pencakar langit yang berdiri tanpa bantuan beton.
PROSES PEMBUATAN SEMEN
Nah, berikutnya kita akan membahas bagaimana cara membuat semen di pabrik. Semen yang paling umum adalah Semen Portland. Semen ini memerlukan empat komponen bahan kimia utama yaitu kapur (batu kapur), silika (pasir), alumina (tanah liat) dan besi oksida (biji besi). Sedikit gipsum biasanya ditambahkan pada saat penghalusan untuk memperlambat pengerasan.
Tahap paling awal dari dari membuat semen adalah penggalian/quarrying. Pabrik semen melakukan penambangan untuk penyediaan terhadap dua jenis material yang penting bagi produksi semen yaitu bahan yang mengandung kapur (calcareous materials), dan material yang mengandung silika (argillaceous materials) seperti tanah liat.
Lalu pada tahap berikutnya, material tadi dihancurkan menjadi ukuran yang lebih kecil dengan menggunakan alat penghancur. Material yang sudah dihancurkan tadi melewati alat analisis on-line untuk menentukan komposisi tumpukan bahan. Komposisi tadi disesuaikan dengan spesifikasi produksi. Tumpukan bahan tadi lalu diangkut oleh belt conveyor ke penampung untuk digiling sampai tingkat kehalusan yang diinginkan.
Campuran bahan baku yang sudah tercampur rata tersebut diumpankan ke pre-heater. Pre-heater merupakan alat penukar panas yang terdiri dari serangkaian siklon dimana terjadi perpindahan panas antara umpan campuran bahan baku dengan gas panas. Tujuannya hanya sebagai pemanasan awal agar proses di unit berikutnya (kiln) lebih efisien (bisa mencapai efisiensi 20-40%).
Kemudian campuran bahan masuk ke dalam kiln. Pada proses ini bahan baku berubah menjadi agak cair dengan sifat seperti semen. Pada yang bersuhu 1350-1400°C, bahan berubah menjadi bongkahan padat berukuran kecil yang dikenal dengan sebutan klinker, kemudian dialirkan ke pendingin, dimana udara pendingin akan menurunkan suhu klinker hingga mencapai 100 °C.
Dari pendingin, klinker dipindahkan ke penampung klinker dengan dilewatkan timbangan pengumpan, yang akan mengatur perbandingan aliran bahan terhadap bahan-bahan aditif. Pada tahap ini, ditambahkan gipsum (kurang dari 4%) ke klinker dan diumpankan ke mesin penggiling akhir. Campuran klinker dan gipsum untuk semen jenis 1 dan campuran klinker, gipsum, dan pozolan untuk semen jenis P dihancurkan dalam sistem tertutup dalam penggiling akhir untuk mendapatkan kehalusan yang dikehendaki. Tahap ini merupakan tahap terakhir dimana semen kemudian dialirkan dengan pipa menuju silo semen. Semen tersebut sudah siap untuk dikemas dan dipasarkan
DESKRIPSI PROSES
Secara umum proses produksi semen terdiri dari beberapa tahapan :
-
Tahap penambangan bahan mentah (Batu Kapur, Tanah Liat, Pasir Besi dan Pasir Silica)
-
Tahap penggilingan awal bahan mentah
-
Tahap pengangkutan bahan mentah
-
Tahap pencampuran dan penimbangan bahan mentah
-
Tahap penggilingan halus bahan mentah
-
Pembuangan emisi gas
-
Pemanasan awal di preheater
-
Pemanasan lanjut dan reaksi pembentukan kristal clinker
-
Pendinginan di cooler
-
Penyimpanan clinker di clinker silo
-
Penggilingan akhir
-
Pengeluaran semen
DAMPAK EKOLOGIS PABRIK SEMEN
Keberadaan pabrik semen di suatu daerah memang memiliki manfaat yang sangat banyak, tetapi dapat juga menjadi ancaman ekologis yang serius. Mulai dari pengambilan bahan bakunya, proses produksinya, sampai dengan dampak polusi debu yang ditimbulkannya. Kalau toh hingga sekarang belum terasakan, jangan keburu gembira, sebab bahaya ekologis selalu muncul belakangan. Dan ketika kita sudah menyadari bahaya itu, maka roda jaman tak mungkin lagi diputar balik. Bencana ekologis, selalu terjadi akibat keterlambatan menyadari kesalahan.
Ancaman bahaya yang pertama, dapat ditelisik mulai dari bahannya. Sebab bahan baku semen merupakan jenis bebatuan yang tergolong sumber daya alam yang tidak terbarukan. Maka eksplorasi yang terus menerus dan berlebihan, pasti akan mengganggu keseimbangan lingkungan. Misalnya berkurangnya ketersediaan air tanah.
Ancaman bahaya yang kedua, menyangkut teknologi. Seiring dengan proses produksi semen, dihasilkan pula gas karbon dioksida (CO2) dalam jumlah yang banyak sehingga sangat mempengaruhi kondisi atmosfer dan mempercepat terjadinya pemanasan global. Sebagai contoh yaitu dapat meningkatkan suhu udara perkotaan. Menurut International Energy Authority: World Energy Outlook, produksi semen portland menyumbang tujuh persen dari keseluruhan karbon dioksida yang dihasilkan dari berbagai sumber
Yang ketiga, produksi semen juga menimbulkan dampak tersebarnya abu ke udara bebas sehingga mengakibatkan penyakit gangguan pernafasan. Studi kesehatan lingkungan menyebutkan, bahwa debu semen merupakan debu yang sangat berbahaya bagi kesehatan, karena dapat mengakibatkan penyakit sementosis. Oleh karena itu debu semen yang terdapat di udara bebas harus diturunkan kadarnya.
Kawan-kawan, itulah sepintas wawasan mengenai semen, yah mungkin masih kulit-kulitnya, jadi bagi yang berminat silahkan dalami sendiri aja, biar lebih nempel ke otak, hehe…
Ridwan Iskandar
Mahasiswa Teknik Kimia ITB 2005
Dari berbagai sumber

aduh mal… tulisannya kok kecil2 bgt sih?
trus warnanya biru pula… >_<
yg jelas, skrg semua bangunan udah pada pake semen. klo ga pake semen, bukan bangunan namanya.. hehehe…
By: yudi on October 19, 2008
at 3:21 am
iya tuh ulasanya sangt sderhana,he tp kali aj sasarn pembcanya lain.sip ters brkarya..kalo bsa dperdlm n dperluas jg.
By: kuya on December 8, 2008
at 9:36 am
minta penjelasan bahan kimia untuk melunakkan semen yang sudah mengeras. Supaya mempermudah dalam pembongkaran bangnan. thanks
By: rifqi on July 14, 2009
at 8:15 pm
Barapakah komposisi/formulasi bahan2 untuk membuat semen secara kasar. al. : Batu kapur ? % Tanah lempung ?% Silica ?% Pasir besi ?%
By: Ervan saleh on September 21, 2009
at 1:59 pm
mas erwan, untuk hal itu sih bisa cari di buku2 atau internet. semen kan produk komoditi, pasti banyak tersedia literaturnya.
By: arghainc on September 25, 2009
at 5:53 pm
kok postingan ini sama pleg dgn blog2 lain ya hihihi
By: ringgo on October 13, 2009
at 8:11 pm