Posted by: arghainc | November 21, 2008

Minyak Sawit

2.1 Minyak Sawit

Indonesia memiliki berbagai kekayaan alam yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi berbagai bahan pangan fungsional. Kelapa sawit merupakan tanaman yang dapat tumbuh baik di daerah beriklim tropis dengan curah hujan 2000 mm/tahun dan kisaran suhu 22-32 oC. Saat ini 5,5 juta Ha lahan perkebunan kelapa sawit di Indonesia telah memproduksi minyak sawit mentah (CPO) dengan kapasitas minimal 16 juta ton per tahun dan merupakan produsen minyak sawit terbesar kedua di dunia setelah Malaysia.

Minyak Sawit memiliki kandungan gizi yang lebih lengkap dibandingkan dengan minyak Zaitun dan VCO (Virgin Coconut Oil). Selain mengandung provitamin A yaitu alfa dan beta karoten, minyak sawit mengandung berbagai jenis mineral yang terdiri atas riboflavin, fosfor, potassium, kalsium, magnesium, mangan, niasin, retinal dan licopen.

Selain dikembangkan sebagai minyak goreng, minyak sawit dapat diaplikasikan untuk mensintesis berbagai produk pangan karena kandungan mikronutrien yang tinggi seperti karotenoid (500-700 ppm) dan vitamin E (1000 ppm). Minyak Sawit mentah atau CPO dikenal kaya akan mikronutrien, terutama karotenoid (provitamin A) dan sitosterol. CPO berwarna merah-kecoklatan menandakan kandungan karotenoid yang tinggi.

Minyak sawit terdiri dari gliserida campuran yang merupakan ester dari gliserol dan asam lemak rantai panjang. Dua jenis asam lemak yang paling dominan dalam minyak sawit yaitu asam palmitat, C16:0 (jenuh), dan asam oleat, C18:1 (tidak jenuh). Umumnya, komposisi asam lemak minyak sawit dapat dilihat pada Tabel 2.1 di bawah ini.

Tabel 2.1 Komposisi Asam Lemak dalam Minyak Sawit

Nama Asam Lemak

Rumus Asam Lemak

Komposisi

Laurat

C12:0

0,2 %

Myristat

C14:0

1,1 %

Palmitat

C16:0

44,0 %

Stearat

C18:0

4,5 %

Oleat

C18:1

39,2 %

Linoleat

C18:2

10,1 %

Lainnya

-

0,9 %

[Sumber: Iyung Pahan.2008]

Selain asam lemak, minyak sawit memiliki kandungan lain seperti karoten dan fosfolipid. Komposisi komponen-komponen tersebut di dalam minyak sawit dapat dilihat pada Tabel 2.2 di bawah ini.

Tabel 2.2 Komponen dalam minyak kelapa sawit

No

Komponen

Kuantitas

1

Densitas, g/ml 50oC

0.8896 – 0.8910

2

Indeks refraksi, nD 50

1.4544 – 1.4550

3

Angka Penyabunan,

mgKOH/g minyak

190 – 202

4

Komposisi asam lemak,

(wt % metil ester)

C12:0

0.1 – 0.4

C14:0

1.0 – 1.4

C16:0

40.9 – 47.5

C16:1

0 – 0.6

C18:0

3.8 – 4.8

C18:1

36.4 – 41.2

C18:2

9.2 – 11.6

C18:3

0 – 0.5

C20:0

0 – 0.8

5

Angka Iodin(Wijs)

50.1 – 54.9

6

Titik leleh, oC

33.0 – 39.0

7

Karotenoid total ( βcarotene), mg/kg

500 – 1000

[Sumber: World oil Seeds]

Asam lemak ditemukan dalam bentuk ikatan asam lemak dengan molekul lainnya seperti trigliserida atau phospolipids. Asam lemak yang tidak terikat dengan molekul lainnya dikenal dengan asam lemak bebas atau Free Fatty Acid. Asam lemak bebas terbentuk karena putusnya ikatan pada trigliserida menjadi asam lemak dan gliserol.

2.2 Proses Pemurnian Minyak Sawit

Proses pemurnian minyak kelapa sawit mentah bertujuan untuk membuat minyak sawit sebagai minyak pangan. pemurnian minyak sawit dilakukan untuk menghilangkan asam lemak bebas, fosfolipid, bahan-bahan pigmen, dan bahan-bahan yang mudah menguap dengan melakukan netralisasi, bleaching, dan deodorisasi. Proses pemurnian minyak sawit secara umum adalah sebagai berikut.

2.2.1 Degumming

Degumming merupakan suatu proses yang bertujuan untuk menghilangkan fosfatida, wax, dan pengotor lainnya dengan cara penambahan air, larutan garam, atau larutan asam. Degumming mengkonversi fosfatida menjadi gum terhidrasi yang tidak larut dalam minyak dan selanjutnya akan dipisahkan dengan cara filtrasi atau sentrifugasi.

Pada pabrik sederhana, degumming dilakukan dengan cara memanaskan CPO hingga temperatur 90-130oC dimana temperatur ini adalah temperatur yang dibutuhkan untuk berlangsungnya reaksi CPO dengan asam fosfat. Setelah itu, CPO dipompa ke dalam mixer statis dengan penambahan 0,35-0,45 kg/ton CPO. Pengadukan yang terus-menerus di dalam mixer bertujuan untuk menghilangkan gum. Proses ini akan mempermudah penghilangan gum pada proses penyaringan berikutnya sehingga ukuran deodorizer tidak terlalu besar.

2.2.2 Netralisasi

Proses netralisasi konvensional dengan penambahan soda kaustik merupakan proses yang paling luas digunakan dan juga proses purifikasi terbaik yang dikenal sejauh ini. Penambahan larutan alkali ke dalam CPO menyebabkan beberapa reaksi kimia dan fisika sebagai berikut:

1. Alkali bereaksi dengan Free Fatty Acid (FFA) membentuk sabun.

2. Fosfatida mengabsorb alkali dan selanjutnya akan terkoagulasi melalui proses hidrasi.

3. Pigmen mengalami degradasi, akan terabsorbsi oleh gum.

4. Bahan-bahan yang tidak larut akan terperangkap oleh material terkoagulasi.

Efisiensi pemisahan sabun dari minyak yang sudah dinetralisasi, yang biasanya dilakukan dengan bantuan separator sentrifugal, merupakan faktor yang signifikan dalam netralisasi kaustik. Netralisasi kaustik konvensional sangat fleksibel dalam memurnikan minyak mentah untuk menghasilkan produk makanan (O’Brien, R.D.1998).

Netralisasi dengan menggunakan soda kaustik dapat dilakukan untuk minyak kelapa sawit yang mengandung 8 sampai 10% Asam lemak bebas. Proses netralisasi ini antara lain: prapemanasan minyak sawit mentah hingga 54-71oC, netralisasi dengan soda kaustik secukupnya, pemanasan hingga 82-88oC untuk mengendapkan fasa sabun dan lansung disentrifugasi. Minyak yang telah ternetralisasi kemudian dicuci dengan air dan selanjutnya dipisahkan sekali lagi melalui proses settling atau sentrifugasi untuk menghilangkan sisa pengotor dan sisa sabun. Selanjutnya minyak dikeringkan dengan bantuan vacuum dryer atau langsung dilakukan proses bleaching

2.2.3 Bleaching

Minyak kelapa sawit yang sudah dinetralisasi mengandung residu sabun, logam, produk-produk oksidasi, dan pigmen warna. Untuk itu dilakukan proses pemucatan (bleaching) untuk menghilangkan bahan-bahan tersebut. Pemucatan minyak sawit dapat dilakukan dengan bleaching earth atau dengan perusakan dengan panas. Karena tingginya kandungan pigmen di dalam minyak sawit, dibutuhkan bleaching earth yang lebih banyak dan waktu pemucatan yang lebih lama dibandingkan proses pemucatan minyak nabati lainnya. Menurut Arumughan et al. (1985) kondisi optimal pemucatan didapat dengan penambahan 3% bleaching earth yang mengandung karbon aktif dengan perbandingan 9:1 dan pemucatan pada temperatur 150oC dalam keadaan vakum 700 mmHg. Menurut Iyung Pahan (2008), kondisi proses pemucatan optimal dapat dicapai pada temperatur 100 – 130oC selama 30 menit dengan injeksi uap bertekanan rendah ke dalam bleacher untuk mengaduk konsentrasi slurry. Setelah melewati proses bleaching, minyak sawit disaring untuk menghilangkan bleaching earth yang masih terbawa di dalamnya.

Tabel 2.3 Pengaruh Bleaching Clay terhadap pengotor dan produk samping

Karakteristik

Berpengaruh pada

Acidic

Phosfatida, Klorofil, Asam Lemak Bebas,Sabun

Catalytic

karoten, color bodies, peroksida, keton, aldehid, asam lemak trans, asam lemak bebas, dimer, polimer, hidrokarbon

Ion Exchange

Phosfatida, Klorofil, Asam Lemak Bebas,Sabun, Trace metal

Adsorption

Phosfatida, Klorofil, karoten, Asam forfor, FFA dimer dan polimer, hidrokarbon

Sumber: O’Brien, R.D.2000

2.2.4 Deodorisasi

Minyak sawit yang keluar dari proses pemucatan mengandung aldehida, keton, alkohol, asam lemak berberat molekul ringan, hidrokarbon, dan bahan lain hasil dekomposisi peroksida dan pigmen. Walaupun konsentrasi bahan-bahan tersebut kecil, bahan-bahan tersebut dapat terdeteksi oleh rasa dan aroma minyaknya. Bahan-bahan tersebut lebih volatil pada tekanan rendah dan temperatur tinggi. Proses deodorisasi pada intinya adalah distilasi uap pada keadaan vakum. Distilasi uap pada tekanan vakum untuk menguapkan aldehid dan senyawa aromatik lainnya menggunakan prinsip hukum Raoult.

Sebelum masuk ke dalam alat deodorisasi, minyak yang sudah dipucatkan dipanaskan sampai 210-250oC. Alat deodorisasi beroperasi dengan 4 cara, yaitu deaerasi minyak, pemanasan minyak, pemberian uap ke dalam minyak, dan pendinginan minyak. Di dalam kolom, minyak dipanaskan sampai 240-280oC dalam kondisi vakum. Manfaat pemberian uap langsung menjamin pembuangan sisa-sisa asam lemak bebas, aldehida, dan keton.

2.2.5 Fraksinasi

Proses fraksinasi dibutuhkan untuk memisahkan trigliserida yang memiliki titik leleh lebih tinggi sehingga minyak sawit tidak teremulsi pada temperatur rendah. Proses fraksinasi dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu fraksinasi kering, fraksinasi basah, dan fraksinasi dengan solvent. Pada fraksinasi kering, minyak sawit didinginkan perlahan dan disaring untuk memisahkan fraksi-fraksinya. Pada fraksinasi basah, kristal pada fraksi stearin dibasahi dengan menggunakan surfaktan atau larutan deterjen. Pada fraksinasi dengan solvent, minyak sawit diencerkan dengan menggunakan solvent seperti heksan, aseton, isopropanol, atau n-nitropropan. Proses fraksinasi kering lebih disukai karena lebih ramah lingkungan.

Fraksinasi dilakukan untuk mendapatkan minyak dengan kestabilan dingin yang baik. Titik leleh merupakan suatu indikasi jumlah unsaturated fatty acid dan asam lemak yang memiliki rantai pendek. Titik leleh akan meningkat seiiring dengan bertambahnya panjang rantai dan menurun seiiring dengan bertambahnya jumlah unsaturated bond.

2.3 Minyak Sawit Merah

Minyak sawit mentah merupakan sumber beta karoten yang paling kaya namum dalam proses konvensional, beta karoten yang terkandung akan rusak. Minyak Sawit merah adalah minyak sawit yang diperoleh tanpa melalui proses pemucatan dengan tujuan mempertahankan kadar karotenoid yang terkandung dalam minyak sawit merah. Minyak Sawit merah mengandung vitamin E yang berfungsi sebagai antioksidan dan karotenoid. Alfa karoten dan beta karoten merupakan provitamin-A terbanyak yang terkandung dalam karotenoid. Beta karoten akan terdenaturasi pada temperatur diatas 200 oC, oleh karena itu, minyak sawit merah kaya beta karoten tidak cocok untuk dijadikan minyak goreng melainkan sesuai untuk dijadikan salad oil. Produksi minyak sawit merah secara komersial yang kaya akan karoten, tokols dan sterol telah dikembangkan dalam skala pilot di Malaysia dan India.

Kebijakan FHO (Food Health Organization) untuk meningkatkan ketersediaan vitamin A pada makanan sehari-hari guna mengurangi defisiensi Vitamin A pada balita dan anak-anak akan meningkatkan nilai bisnis dari produksi minyak sawit merah. Warga Amerika mencampurkan minyak sawit merah dengan minyak Canola sebagai minyak salad dengan kandungan provitamin-A tinggi.

Apabila ditinjau dari segi historik, minyak sawit merah bukanlah hal yang baru. Minyak Sawit merah telah menjadi bagian dari masyarakat tradisional setidaknya sejak 5000 tahun silam, dipercaya sebagai makanan bernutrisi tinggi dan obat mujarab. Pada zaman Mesir, para Pharaoh menyatakan minyak sawit merah sebagai minuman sakral dan digunakan para ratu untuk memperhalus kulit. Saat ini manfaat dari minyak sawit merah sudah mulai diakui para ahli kesehatan untuk mencegah malnutrisi dan defisiensi vitamin A. (Qureshi 1995 dan Tan 1991)

2.4 Beta Karoten

Beta karoten atau yang dikenal juga dengan nama Karotaben, Provatene atau Solatene, merupakan suatu senyawa dengan rumus molekul C40H56 dengan massa molekul relatif seberat 536,85 mol/gr dan merupakan provitamin-A terpenting. Beta Karoten terdistribusi secara luas dalam kingdom tumbuhan dan sering dijumpai bersamaan dengan klorofil.

Beta karoten akan terdenaturasi pada suhu diatas 200 oC. Agar tidak terdenaturasi, beta karoten harus disimpan dalam tempat tertutup dan terjaga dari sinar dan disimpan dalam temperatur rendah yaitu -20 oC. Beta karoten telah dikembangkan secara komersial sebagai perkusor vitamin A dan pewarna kuning dalam makanan. Dalam bidang kesehatan, beta karoten berguna untuk meningkatkan imunitas, dan mengurangi resiko penyakit kanker, penyakit kardiovaskular dan katarak ( Astrog 1997, Bendich 1994, Burri 1997, Gaziano dan Hennekens 1993, Krinsky 1993, Mayne 1996, Olson 1999, Olson dan Krinsky 1995)

2.5 Pembuatan Minyak Sawit Merah

Secara umum, pembuatan minyak sawit merah untuk produksi minyak salad mirip dengan produksi minyak goreng. Minyak sawit mentah harus melewati proses degumming, neutralizing, bleaching dan deodorizing. Hal yang harus kita perhatikan dalam pembuatan minyak sawit merah adalah mempertahankan kandungan karoten yang terkandung dalam minyak sawit mentah dan kestabilan dingin dari produk yang diinginkan. Dalam proses refining minyak sawit mentah, karotenoid akan hilang dalam proses bleaching bersamaan dengan klorofil dan logam berat. Dua cara yang umum digunakan untuk mempertahankan kandungan beta karoten adalah;

1. Memisahkan kandungan beta karoten dari minyak sawit mentah kemudian dikembalikan lagi pada akhir proses pembuatan minyak merah.

2. Minyak sawit mentah yang telah melewati proses refining tanpa bleaching, akan dibersihkan dari Free fatty acid via distilasi molekular pada tekanan vakum dan temperatur operasi yang lebih rendah dari temperatur dimana beta karoten akan terdenaturasi.

3. Proses refining sama seperti minyak sawit pada umumnya, tetapi metode bleaching yang digunakan adalah metode Ion exchange.

Guna produksi minyak salad, minyak sawit merah diharapkan memiliki kestabilan dingin yang baik serta kandungan klorofil dan logam seminimal mungkin. Minyak sawit merah diharapkan tidak akan membeku pada temperatur lemari es (8 oC)

2.6 Pembuatan Minyak Sawit Merah Melalui Proses Recovery Carotenoids

Recovery Carotenoids diterapkan pada berbagai industri farmasi yang bertujuan untuk memproduksi provitamin A. Proses ini dapat diterapkan dalam pembuatan minyak merah, dimana beta caroten yang terkandung dalam minyak sawit mentah akan dipisahkan, kemudian setelah minyak sawit mentah yang sudah tidak mengandung beta karoten mengalami proses refining, beta karoten yang sudah dipisahkan sebelumnya akan dikembalikan.

2.6.1 Recovery Carotenoids Berdasarkan US Paten No. 6,072,092

Minyak yang mengandung karoten diesterifikasi dengan menggunakan alkohol seperti metanol, etanol atau isopropanol untuk mendapatkan campuran gliserol, alkil ester dari asam lemak, karoten, tokoferol dan tokotrienol. Karoten, tokoferol, tokotrienol dan alkil ester dari asam lemak akan terbawa dalam fasa minyak . Fasa minyak ini didapat dengan cara sentrifugasi. Langkah selanjutnya adalah distilasi untuk menghilangkan alkil ester dalam campuran untuk menghasilkan konsentrat yang kaya akan karoten, tokoferol dan tokotrienol. Proses distilasi dilaksanakan dalam keadaan dimana temperatur tidak melebihi 180 oC dan tekanan dibawah 60 mTorr. Konsentrat yang kaya akan karoten kemudian dikontakkan dengan pelarut non-polar kemudian diabsorbsi dengan silica-gel absorbent dimana karoten, tokoferol dan tokotrienol dan residu lainnya diabsorbsi oleh absorben. Absorben selanjutnya dikontakkan dengan pelarut non-polar seperti heksana, heptana atau peroleum eter sehingga karoten akan terpisah dari komponen lainnya.

2.7 Pembuatan Minyak Sawit Merah Kaya Beta Karoten dengan Proses Refining Tanpa Bleaching

Tingginya biaya recovery carotenoids guna menghasilkan minyak kaya beta karoten menjadi alasan utama berkembangnya proses pemurnian minyak sawit dimana dalam proses ini beta karoten dipertahankan. Pada proses pemurnian konvensional, kandungan beta karoten akan hilang dalam proses bleaching atau pemucatan. Oleh karena itu, dalam proses pemurnian minyak sawit merah dimana kandungan beta karoten dipertahankan, tahap pemucatan dihilangkan.

2.7.1 Pembuatan Minyak Kaya Karoten Berdasarkan Paten US No 6,177,144 B1

Proses yang digunakan adalah distilasi minyak kaya karoten dalam sebuah short-path distilator pada rentang temperatur 160 hingga 210 oC dan rentang tekanan antara 0,003 dan 0,08 mbar. Proses selanjutnya adalah untuk menghilangkan asam lemak bebas melalui kondensasi pada distiler. Minyak yang akan masuk dalam distiler adalah minyak sawit mentah yang telah didegumifikasi dan didegasifikasi yang selanjutnya dipanaskan hingga 160 oC.

Pada percobaan ini, minyak sawit mentah dipompa dari tangki penyimpanan pada temperatur antara 30 hingga 50 oC via steam heated preheater kedalam degasser. Minyak yang ada di preheater dipanaskan dan kemudian temperatur dijaga antara 80 hingga 160 oC. Tekanan operasi pada degasser dijaga antara 0,5 mbar hingga 5 mbar. Dalam kondisi tekanan dan temperatur tersebut, dilute gas dan asam lemak akan terevaporasi. Uap yang dihasilkan akan didinginkan dalam kondensor dan asam lemak dikembalikan sembali sebagai refluks. Kondensor didinginkan dengan air bertemperatur 20 hingga 60 oC. Sisa dari uap akan dikondensasi dengan external cooled condesnser pada temperatur antara -5 hingga 15 oC. Minyak yang telah didegasifikasi akan dialirkan ke dalam distiler namun tempetarur minyak sebelum masuk distiler harus dijaga tetap pada suhu 160 oC. Temperatur pada distiler dijaga tetap pada suhu 160 oC dan tekanan antara 0,003 hingga 0,08 mbar. Pada kondisi ini, asam lemak akan terdistilasi. Asam lemak akan terdistilasi dalam internal kondensor yang didinginkan oleh air bertemperatur sekitar 35 oC. Residu yang didapat dari sisa distilasi akan didinginkan hingga temperatur 50 hingga 70 oC. Residu ini merupakan minyak sawit merah yang kaya akan karoten (minimal 500 ppm) dan memiliki kadar asam lemak kurang dari 0,08%. Selain itu, minyak yang didapat juga tidak berwarna dan tidak berasa.

2.7.2 Pembuatan Minyak Sawit Merah Berdasarkan Paten Nomor DOI 10.1007/s11746-007-1078-9

Bahan mentah yang digunakan dalam proses ini adalah minyak sawit mentah yang mengandung asam lemak bebas kurang dari 3%. Semua peralatan yang digunakan dalam proses ini memenuhi standar pabrik skala pilot.

a. Netralisasi

Peralatan utama yang digunakan dalam proses netralisasi adalah reaktor vessel, agitator, dan pompa berfilter. Reaktor vessel yang digunakan didesain untuk kapasitas 25 liter per batch.

20 kg minyak sawit mentah dimasukkan ke dalam neutralizer dalam keadaan vakum (70mmHg) kemudian dipanaskan sambil diaduk perlahan hingga 80 oC. NaOH sebanyak 115 g dilarutkan ke dalam 1 L aqua dm dan dipanaskan sampai 80 oC di dalam reagent vessel dan secara perlahaan dimasukkan ke dalam reactor vessel yang kemudian diaduk secara perlahan dalam kondisi vakum. Pengadukan diberhentikan setelah 10 menit dan minyak didinginkan hingga 70 oC menggunakan air dingin. Pada suhu ini, tekanan tangki dikembalikan menjadi tekanan atmosfer, dan pendinginan dilanjutkan hingga minyak mencapai temperatur 50 oC. Setelah didiamkan selama 2 jam, sisa sabun dikeluarkan dari dasar tangki. Pemisahan iini harus dilakukan sebelum temperatur minyak mencapai 48 oC. Setelah pemisahan sabun, minyak dicuci untuk menghilangkan sabun dan alkali dengan menggunakan air panas 80 oC pada tekanan vakum. Dibutuhkan lima sampai empat kali pencucian dengan perbandingan air-minyak sebesar 1:7 pada setiap pencucian.

b. Kristalisasi

Pada proses kristalisasi digunakan cristallizer dengan kapasitas 50 kg. Minyak sawit yang sudah dinetralisasi diumpankan ke dalam crystallizer dan dipanaskan hingga 70 oC selama 15 menit guna menghancurkan berbagai kristal. Minyak kemudian didinginkan hingga 25 oC dengan laju pendinginan yang berbeda-beda antara 15, 17, 20, 25, 30, dan 35 oC per jam. Laju pendinginan yang berbeda-beda ini digunakan untuk menentukan delta T optimum yang menghasilkan kristal beta karoten dalam jumlah maksimum.

c. Filtrasi

Minyak sawit yang sudah dikristalisasi kemudian dipisahkan menjadi stearin dan olein menggunakan rotary drum vacum filter dengan menggunakan bahan 100% poliester sebagai medium filter. Hasil akhir dari proses ini adalah olein cair.

d. Deodorisasi

Deodorisasi dilakukan dalam suatu wadah vakum di mana minyak akan dipanaskan pada temperatur 130, 140, dan150 oC selama 2 jam. Temperatur deodorisasi yang berbeda-beda digunakan untuk mendapatkan temperatur minimal dimana jumlah karoten yang terkandung mencapai nilai maksimum tanpa berbau.

2.8 Pembuatan Minyak Sawit Merah dengan Ion Exchange pada tahap Bleaching

Berdasarkan buku Introduction to Fats and Oil Technology dan dapat dilihat pada tabel 2.3, proses bleaching menggunakan metode Ion Exchage tidak akan menghilangkan karoten. Sampai saat ini belum ada jurnal ilmiah yang membahas tentang metode ini.

2.9 Stabilitas Dingin Minyak Sawit Merah

Stabilitas dingin minyak sawit adalah kemampuan minyak sawit menahan terjadinya kristalisasi dan dan tetap jernih pada temperatur rendah. Tabel berikut ini menunjukkan kestabilan dingin beberapa jenis minyak sawit.

Single-fractionated red palm olein (SfRPOo) dan double-fractionated red palm olein (DfRPOo) didapatkan dengan deodorisasi minyak sawit mentah pada temperatur rendah untuk mempertahankan kandungan karoten di dalamnya. Comercial red palm olein A dan B didapatkan dari pabrik pemurnian setempat. Proses pembuatan kedua minyak sawit merah komersial ini merupakan rahasia pabrik.


Responses

  1. terimakasih. Tapi mesih ada pertanyaan nich!!
    Bagaimana cara menghilangkan logam berat pada minyak?

  2. Good

  3. syukron katsir infonya………

  4. ada saran g tuk cara membangun pabrik mikro untk minyak goreng klp sawit

  5. artikel yang bagus

  6. terima kasih bgd infonya! Yes, tgs ttg separasi di suatu proses industri aq selese dalam skejap! Aq t’tarik sama minyak goreng sawit ky beta karotennya!

  7. MOHON INFORMASI BAGAIMANA MENURUNKAN FFA PADA CPO YANG KADAR FFA 20% MENJADI FFA DI BAWAH 5%?
    THANKS


Leave a response

Your response:

Categories