Posted by: arghainc | September 7, 2009

Anak Kutu Buku Ternyata dimulai dari komik

Anak Kutu BukuTernyata dimulai dari komik

Siapa yang tak senang memiliki anak gemar membaca? Anak seperti ini akan lebih sukses dalam mencari pengetahuan demi masa depannya. Namun kenyatannya, lebih banyak anak yang benci untuk membaca. Lebih sedikit lagi yang kutu buku. Kondisi ini belum terpecahkan karena orang tua tak mengerti duduk permasalahannya. Ikutilah bahasan berikut.

Dikenalkan sejak kecil

Buatlah sebuah perpustakaan di rumah, walau hanya satu sudut kecil saja. Kunci utama pengenalan anak kepada buku adalah besarnya frekuensi `pertemuannya yang menyenangkan’ dengan buku. Syukur-syukur jika banyak buku menarik yang anda sediakan khusus untuk anak-anak.

Ijinkanlah mereka untuk selalu bersama-sama dengan buku. Membaca santai di ruang keluarga, di teras, di ruang tidur, ruang makan hingga di WC. Biasakanlah di mana-mana mereka melihat buku. Jangan memasung anak dengan hanya memperbolehkan mereka membaca di ruang perpustakaan saja, dengan posisi duduk yang tegak saja, atau di jam-jam tertentu saja. Dalam keadaan seperti ini anak tak bisa menikmati buku yang dibacanya.

Sebaliknya, anak membutuhkan suasana santai untuk bisa menumbuhkan rasa nikmat kala membaca tadi. Tentu saja, akhirnya diperlukan kerja ekstra orang tua untuk merapikan buku-buku itu kembali di saat yang ditentukan.

Akan membantu pula jika mengenalkan keasyikan membaca lewat keaktifan orang tua dalam mendongeng.

Jadilah orang tua pembaca

Ketika melihat orang tuanya begitu serius dan antusias membaca, anak akan penasaran, dan termotivasi untuk meniru perbuatan orang tuanya. Bermula dari motivasi inilah maka anak akan lebih mudah untuk menemukan kenikmatan dalam membaca. Sebuah keuntungan bagi orang tua, adalah karena karakter anak yang suka meniru, maka orang tua tak perlu repot-repot memberi pengertian. Anak akan meniru dengan sendirinya.

Hindarkan dari TV

Televisi adalah musuh besar bagi anak-anak. Tayangannya yang hanya menitikberatkan pada gambar dan suara, dan hanya menuliskan sepatah atau dua patah kata, justru membuat anak malas membaca. Gambarnya yang begitu cepat bergerak dan berganti, membuat anak tak terbiasa berkonsentrasi. Padahal untuk menikmati bacaan butuh konsentrasi. Warna-warninya yang begitu semarak sangat menarik, menyaingi kondisi banyak buku anak-anak yang suram dan membosankan. Apalagi buku pelajaran sekolah dengan kertas yang buruk dan tanpa gambar. Anak yang banyak menonton televisi sulit untuk bisa menyukai buku-bukunya.

Tumbuhkan Motivasinya

Seseorang akan bangkit motivasinya untuk melakukan sesuatu jika ia menemukan keasyikan dan kenikmatan. Begitu pula dalam hal membaca. Tak ada gunanya memaksa anak untuk membaca buku-bukunya dengan maksud agar mereka terbiasa membaca. Yang lebih penting untuk dilakukan adalah menumbuhkan keasyikan terlebih dahulu.

Untuk menumbuhkan keasyikan, bolehkan anak memilih sendiri buku yang akan ia baca. Jangan kecewa jika pilihannya masih sangat jauh dari harapan anda. Dan anda tak boleh memaksanya mengubah pilihannya jika bukan karena keinginannya sendiri. Sabarlah, karena kelak jika keasyikan telah tumbuh, akan lebih mudah untuk menyuruhnya memilih.

Fiksi, lalu Cari Sendiri

Membiasakan anak untuk membaca tidak bisa dicapai hanya dalam waktu beberapa hari, atau satu dua minggu saja. Orang tua harus ekstra sabar karena upaya pembiasan ini bisa makan waktu berbulan-bulan, bahkan mungkin bertahun-tahun. Bagi anak balita, maupun usia sekolah, bisa dilakukan peran aktif orang tua memfasilitasi upaya pembiasaan ini, yang umumnya melalui beberapa tahapan, seperti ditulis Mary Leonhart dalam bukunya, Parents Who Love Reading, Kids Who Don’t.

Tahap Pertama: Membolak-balik Buku dan Majalah

Jangan kecewa, jika anak-anak anda hanya membuka-buka saja buku-buku yang telah anda beli dengan harga tinggi. Mungkin hanya judul-judulnya saja yang mereka baca, dan gambar-gambarnya saja yang mereka amati. Bagi mereka yang belum terbiasa membaca, ini adalah sebuah awal yang baik, dan harus segera direspon oleh orang tua.

Biarkan anak asyik dengan kegiatannya membolak-balik buku berulang-ulang, hingga nampak mereka begitu asyik. Buku yang nampak semakin kumal adalah tanda awal keberhasilan tahap ini.

Tahap Kedua: Membaca Komik, Majalah dan Koran

Bacaan jenis komik adalah jembatan menuju buku selanjutnya yang lebih berkualitas. Karena untuk mencerna bacaan bukan hal yang mudah, anak perlu membiasakan mencerna kalimat-kalimat pendek dengan banyak gambar terlebih dulu. Selain itu ceritanya yang pendek-pendek tidak membuat bosan atau memberatkan anak yang belum suka membaca.

Keuntungan lain, adalah bahwa komik dan majalah memiliki banyak seri. Sekali anak tertarik pada satu jenis komik, Doraemon misalnya, ia akan sangat ingin mengoleksi semua komik tokoh ini yang selanjutnya. Itu berarti ia akan membaca puluhan komik lagi! Dan biarkan mereka mengoleksi sebanyak-banyaknya komik dan majalah kesukaan mereka!

Tahap Ketiga: Buku Pertama

Tiba saatnya melangkah menuju sebuah buku. Orang tua bisa mencarikan buku teringan dari kemampuan baca anak. Untuk anak usia di bawah tujuh tahun, buku dengan banyak gambar cukup banyak tersedia. Untuk usia selanjutnya, pilihkan buku cerita yang `ringan’, tidak terlalu panjang ceritanya, tetapi tetap tidak terkesan kekanak-kanakan.

Mereka yang suka komik fiksi perlu dicarikan buku cerita fiksi. Yang suka majalah akan lebih tepat jika dibelikan buku pertama yang bertema non-fiksi atau berbau pengetahuan.

Tahap Keempat: Bacaan Tertentu

Pada tahapan ini, sudah muncul keasyikan tersendiri terhadap jenis bacaan tertentu, dan anak-anak itu bangga terhadap hobi barunya itu. Orang tua kerap jengkel dengan kefanatikan anak terhadap buku pertamanya itu. Asal tahu saja, sebenarnya tahapan ini wajar dan menggembirakan, sehingga tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Tahap Kelima: Pengembangan

Ketika anak sudah membaca puluhan buku dalam satu seri, atau hanya yang bertema fiksi saja, misalnya, tiba saatnya untuk mengembangkan ke arah buku bertema non-fiksi. Tawarkan buku-buku cerita dengan variasi judul baru, dan dengan variasi tema. Upaya ini belum tentu berhasil dengan cepat. Mungkin anak anda masih perlu waktu bertahun-tahun untuk memuaskan keinginannya membaca kisah-kisah fiksa atau khayal. Tetapi yakinlah, satu saat kelak pasti ada juga tumbuh keinginannya untuk mencoba jenis bacaan lain.

Tahap Keenam: Bacaan yang Lebih Luas

Akhirnya, akan tiba saatnya anak mulai membaca buku jenis lain dari yang biasanya ia baca. Jika tiba saat ini, orang tua harus segera `menangkap’ momen ini dengan memberikan fasilitas sebesar-besarnya agar anak bisa mengenal lebih banyak variasi buku lainnya.

Tahap Ketujuh: Mencari Buku Sendiri

Adalah sangat menggembirakan ketika kini anak-anak telah berinisiatif untuk mencari sendiri buku-buku yang ingin mereka baca. Motivasi telah tumbuh dan perlu terus didukung. Berilah fasilitas dengan mengantar mereka ke toko buku dan perpustakaan untuk memilih bukunya sendiri.

Tahap Kutu Buku Abadi

Segalanya menjadi lebih mudah ketika anak sudah tak terpisahkan dari buku-bukunya. Mereka tertarik untuk mengisi waktu luangnya dengan membaca, dan lebih suka tenggelam dalam bukunya dari pada menonton hingar-bingarnya televisi. Dalam keadan ini, anda akan lebih mudah mengajak anak menyukai buku-buku pelajaran mereka, walau buku-buku itu tak menarik, karena mereka telah terbiasa membaca.


Responses

  1. Hidup komik!!!


Leave a response

Your response:

Categories